Sabtu, 01 Oktober 2011

Ketika Dosa Tak Dirasa

Judul:
Ketika Dosa Tak Dirasa;
Yang Kecil pun Bisa Menjadi Besar
Penulis:
Dr. Aam Amiruddin & Redaksi MaPi
ISBN:
978-979-3838-42-7
Ukuran:
12 x 18 cm
Halaman:
122 hlm
Terbit:
Oktober 2011
Penerbit:
Khazanah Intelektual
Harga:
Rp. 25.000,-


Saat bergaul dan berinteraksi dengan banyak orang, tanpa disadari kata-kata mengalir dari mulut kita seolah keluar tanpa beban. Tak jarang, bersamaan dengan keluarnya kata-kata, mengalir pula dosa, mulai dari menggunjingkan tetangga, membanggakan dan memamerkan diri, berbohong, dan perbuatan tidak terpuji lainnya.

Semudah itu manusia melakukan dosa. Bahkan, saking terbiasanya sangat banyak dosa-dosa yang sudah tidak dirasa lagi sebagai perbuatan salah yang berat konsekuensinya.

Sebagian besar ulama sepakat bahwa dosa dibagi menjadi dua, yaitu dosa besar dan dosa kecil. Namun, berbicara “dosa yang tak dirasa” tidak selalu identik dengan dosa kecil. Pun, “dosa tak dirasa” tidak selalu berarti sebagai kecenderungan orang yang tidak sadar akan perbuatan dosa karena kecilnya. Boleh jadi, jika kita lihat fenomena yang ada, dosa besar sekalipun tidak sedikit dianggap biasa dan tidak lagi dirasa sebagai dosa karena saking seringnya dilakukan. Tentu saja, sikap seperti itu jauh lebih berbahaya dari sekadar mengabaikan dosa yang dianggap kecil. Dengan demikian, secara prinsip tidak ada bedanya antara dosa kecil dan dosa besar karena keduanya memiliki potensi ancaman datangnya azab Allah. Selain keduanya juga memiliki peluang yang sama untuk diampuni Allah Swt.

Bisa dikatakan bahwa besar dan kecilnya suatu dosa tidak diukur dengan seberapa besar ancaman siksa yang akan diterima, namun diukur dari seberapa besar kesadaran orang terhadap dosa yang dilakukannya. Boleh jadi dosa itu kecil dan remeh, namun jika dilakukan dengan terus menerus dan tidak disertai istighfar, ia akan menjelma menjadi dosa besar. Pun sebaliknya, boleh jadi dosanya besar, namun karena kesadaran tinggi akan akibat yang ditimbulkan, mendorongnya untuk bertobat dan tidak mengulanginya lagi, maka dosa tersebut sebetulnya menjadi kecil bahkan terhapus di hadapan Allah.

Besar kecilnya suatu dosa juga tidak bisa sepenuhnya dilihat dari jenis dosa tersebut. Terutama untuk menentukan jenis-jenis dosa kecil. Sejauh yang dapat saya amati dari sejumlah kitab-kitab rujukan, jarang sekali para ulama yang mengungkap secara rinci apa saja yang termasuk dosa kecil. Relativitas kecilnya dosa menunjukkan bahwa sebetulnya tidak ada yang besar jika disertai tobat dan tidak ada yang kecil jika dilakukan terus menerus. Sementara, khusus mengenai jenis-jenis dosa besar, cukup gamblang diungkap dalam sejumlah ayat dan hadits.

Dalam buku ini, Dr. Aam Amiruddin bersama dengan Redaksi MaPI mengajak kita berhuhasabah dengan mengintip ke dalam hati kita, sudah bersihkah dari penyakit mengabaikan dosa? Selain itu, dalam buku ini dipaparkan pula ibadah-ibadah mahdah yang bisa menjadi perisai dari setiap dosa dan kesalahan.

Selasa, 01 Maret 2011

Golden Parenting; Sudahkah Kudidik Anakku dengan Benar?


Judul:
GOLDEN PARENTING;
Sudahkah Kudidik Anakku dengan Benar?

Penulis:
Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si
ISBN:
978-979-3636-32-6
Ukuran:
17 x 17 cm
Halaman:
x + 86 hlm
Terbit:
Cetakan I & II, Maret 2011
Penerbit:
Khazanah Intelektual
Harga
Rp. 35.000,-


Sebagai umat Islam, kita tentu mendambakan metode parenting yang lebih dari sekadar pendidikan untuk kecerdasan intelektual, emosional, maupun sosial anak. Untuk menjadi orangtua muslim yang baik, dibutuhkan lebih dari sekadar smart. Ya, selain mencerdaskan anak secara intelektual, emosional, serta sosial, putra-putri kita pun harus dibekali kecerdasan spiritual. Oleh karena itu, lahirlah Islamic parenting yang dinilai sangat sesuai dengan kebutuhan orangtua muslim dalam mempersiapkan generasi muslim yang berkualitas.

Apa saja ruang lingkup Islamic parenting tersebut? Isinya lengkap seputar tata cara mendidik anak sejak ia masih dalam kandungan sampai menginjak usia remaja (baligh), bahkan sampai usia pranikah. Beberapa buku Islamic parenting menjelaskan secara gamblang cara mendidik anak dari segi akidah dan akhlak. Ya, karena akidah adalah fondasi utama yang harus dibentuk dalam diri anak agar mereka tidak mudah tercerabut dari akar agamanya. Sedangkan akhlak adalah modal yang akan ia gunakan dalam menjalani kesehariannya saat berinteraksi, baik dalam keluarga maupun dengan lingkungan di sekitarnya.

Lantas, sudah cukupkah Islamic parenting tersebut dijadikan acuan dalam melahirkan generasi Islam yang tangguh? Mungkin ya dan mungkin juga tidak. Tanpa bermaksud menafikan cakupan Islamic parenting seperti yang disebutkan, ada sesuatu yang kurang dari pembahasan Islamic parenting. Seperti juga pada smart parenting. Pada kedua metode tersebut terdapat dikotomi pemikiran. Sebut saja, smart parenting lebih condong pada pendidikan anak secara duniawi atau materi, sementara Islamic parenting lebih condong pada pendidikan ukhrawi atau spiritual. Mengapa sebuah pendidikan yang seharusnya holistik (menyeluruh) dipisahkan oleh sekat-sekat tersebut? Bukankah untuk melahirkan generasi unggul dibutuhkan lebih dari sekadar smart parenting atau Islamic parenting?

Jika kedua metode tersebut digabungkan, mungkin hasilnya akan lebih dahsyat daripada metode smart parenting dan Islamic parenting yang diterapkan secara terpisah. Bayangkan saja, sebuah metode yang mengedepankan pembinaan intelektualitas berpadu dengan pembahasan berbagai hal seputar anak dari sudut pandang psikologis dan medis, tanpa mengesampingkan pendekatan agama dalam setiap pembahasannya. Tentu bukan main dahsyatnya bila motede ini berhasil diterapkan pada pendidikan anak. Apalagi bila kemudian disertai dengan satu hal yang tak kalah penting (bahkan mendasari keberhasilan suatu metode parenting) yakni komunikasi efektif yang diterapkan ketika menyampaikan beragam tata nilai pada anak. Tentu hal ini bisa disebut lebih dari cerdas, ini brilian! Konsep inilah yang dalam buku terbaru Ust. Aam Amiruddin ini disebut “Golden Parenting”. Mengapa harus golden parenting? Tidak lain karena untuk mengasah anak yang sedang dalam masa keemasan (golden age) tentu harus dengan pola pengasuhan (parenting) yang keemasan pula. Jadi, setiap orangtua yang memiliki anak usia keemasan (golden age) wajib membaca buku ini.

Rabu, 02 Februari 2011

Rumus Cepat Kreatif & Sukses Matematika Dasar


Judul:
RUMUS CEPAT KREATIF DAN SUKSES MATEMATIKA DASAR
Penulis:
Ir. Agus Nggermanto
ISBN:
978-979-38386-30-4
Ukuran:
17.6 x 25 cm
Halaman:
vi + 116 hlm
Terbit:
Cetakan I, Februari 2011
Penerbit:
Ide Publishing




Menguasai matematika dasar sangat penting bagi semua orang. Anak-anak yang mampu menguasai matematika dasar menjadi lebih mudah mempelajari pelajaran lain. Guru yang menguasai matematika dasar berhasil menampilkan pelajaran yang dianggap paling sulit menjadi menyenangkan. Orangtua yang menguasai matematika dasar dapat menjadi lebih akrab mendampingi putra-putri tercinta belajar.

Buku SUKSES MATEMATIKA DASAR ini berusaha menampilkan matematika dengan cara yang kreatif dan asyik. Meminjam istilah Paman APIQ, buku ini terdiri dari tiga bagian utama sesuai nama anak kandung matematika: aljabar, geometri, dan aritmetika.

Bagian I membahas aritmetika berhitung cepat. Kita akan berkenalan dengan Rumus Ekspres Kreatif APIQ yang cepat dan mudah. Mulai dari berhitung cepat jurus bintang sampai berhitung cepat FPB KPK. Seperti kita tahu FPB KPK selalu menjadi soal paling rumit. Tetapi dengan rumus ekspres, kita akan dapat menguasai FPB KPK dengan intuitif dan menyenangkan.

Bagian II membahas geometri. Cara cepat menghitung luas dan keliling lingkaran kita bahas dengan rumus ekspres. Umumnya, anak-anak cukup sulit memahami konsep bilangan irasional. Tapi dengan rumus ekspres, kita akan menikmati bilangan.

Bagian III membahas aljabar. Paman APIQ mengenalkan konsep “kantong ajaib aljabar” yang sangat memudahkan belajar hitung cepat perbandingan. Semua tema dalam buku ini telah diperkaya dengan contoh-contoh soal ujian nasional (UASBN SD).

Selasa, 01 Februari 2011

7 Jurus Dahsyat Menghafal Cepat


Judul:
7 Jurus Dahsyat Menghafal Cepat
Penulis:
Ken Parimita & Emirita Dyah Palapasari
ISBN:
978-979-3838-32-8
Ukuran:
19,5 x 19,5 cm
Halaman:
VI + 90 hlm
Terbit:
Cetakan I, Februari 2011
Penerbit:
Khazanah Intelektual
Kontak Pemasaran:
022. 70780148


Penulis pernah mendengar seorang ulama berkata, “Lupa biasanya dikarenakan kita kebanyakan dosa.” Entah pernyataan tersebut didasarkan pada keterangan yang sahih atau bukan, tapi yang jelas penyakit (kalau memang bisa dikategorikan penyakit) lupa memang sangat mengganggu. Lupa merupakan hilangnya suatu informasi yang telah disimpan dalam memori otak jangka panjang.

Dalam rangka mengatasi kebiasaan susah ingat dan mudah lupa, buku ini hadir memberikan solusi. Pada bagian awal pembahasan, Anda akan diajak untuk mengetahui alasan mengapa cepat lupa materi pelajaran, mengapa mengingat kata-kata asing harus dilakukan secara berulang-ulang, mengapa menghafal itu membosankan dan lebih menarik membaca komik, mengapa kalau membaca buku cepat ngantuk, serta mengapa kalau belajar dengan menggunakan “Sistem Kebut Semalam” itu tidak efektif.

Dalam buku ini disebutkan, kalau ingin menjadi jagoan menghafal, ada tujuh jurus yang harus dikuasai. Pertama disebut jurus Berpasangan. Jurus ini digunakan untuk mengingat informasi yang bentuknya berpasangan, seperti kata asing dan artinya, negara dan ibukota, tari-tarian dan asalnya, dan masih banyak lagi tipe berpasangan lainnya. Kedua disebut jurus Berpasangan Lebih dari Satu. Jurus ini digunakan untuk mengingat informasi berpasangan yang lebih kompleks, misalnya menghafalkan tarian, lagu daerah, rumah adat, asal daerah serta menghafal nama candi, letak, pendiri.

Ketiga disebut jurus Poin Panjang. Jurus ini berguna untuk mengingat kalimat panjang dan terdiri dari beberapa poin, misalnya butir-butir Pancasila, fungsi organ tubuh, serta perjanjian-perjanjian. Keempat disebut jurus Poin Pendek. Jurus ini biasanya dikenali dalam pelajaran yang bentuknya kata-kata pendek dan dalam jumlah banyak yang urut maupun tidak urut; misalnya urutan planet, nama negara-negara dalam satu kawasan atau benua, sistem periodis, serta urutan daftar belanja (untuk kehidupan sehari-hari). Kelima disebut jurus Rumus. Rumus adalah informasi yang harus diingat secara utuh dan detail, sehingga harus ditulis secara lengkap beserta arti masing-masing lambang dan lengkap dengan latihan soal. Pelajaran yang banyak rumus, misalnya Matematika, Fisika, Kimia.

Keenam disebut jurus Definisi. Jurus ini digunakan untuk mengingat informasi berupa istilah dan artinya yang berupa kalimat panjang; misalnya definisi dari istilah Geografi, Biologi, Bahasa Indonesia, Ekonomi, Sejarah, dan lain sebagainya. Ketujuh disebut jurus Proses. Jurus ini sering ditemukan untuk pelajaran IPA atau Biologi; misalnya Proses Metagenesis, siklus krebs, dan lain-lain.

Sabtu, 01 Januari 2011

Fiqih Wanita Empat Madzhab

Judul:
Fiqih Wanita Empat Madzhab
Penulis:
Dr. Muhammad Utsman Al-Khasyt
ISBN:
 978-979-1348-99-7
Ukuran:
16.5 cm x 24 cm
Halaman:
 468 hlm
Terbit:
Cetakan II, Januari 2011
Penerbit:
Khazanah Intelektual
Kontak Pemasaran:
022. 70780148



Menjadi wanita penghuni surga adalah keinginan setiap muslimah. Namun demikian, tidak semua muslimah mengetahui tata cara untuk menggapai impiannya tersebut. Sebagian besar muslimah sudah merasa cukup apabila telah dapat menjalankan ibadahnya sesuai standar amaliah pada umumnya. Tidak banyak muslimah yang tahu bahwa Islam telah menggariskan beberapa peraturan yang memang khusus dibuat bagi wanita. Ya, Islam telah menetapkan tata cara bersuci khusus untuk wanita, batasan aurat bagi wanita, melaksanakan shalat serta shaum bagi wanita, berdandan, hak dan kewajiban wanita dalam berumah tangga, serta peranan wanita dalam ranah publik yang kesemuanya itu berbeda dengan aturan bagi kaum pria.

Karenanya, kebutuhan akan buku fiqih wanita menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Kalau hanya buku fiqih wanita, tentu dengan mudah kaum muslimah mendapatkannya di berbagai toko buku. Namun demikian, apakah buku-buku tersebut dapat menuntaskan dahaga akan aturan fiqih wanita yang selama ini mengganjal dalam benak muslimah? Jawabannya adalah tidak semua buku fiqih wanita tersebut menjelaskan secara gamblang mengenai problematika wanita. Mengapa? Tidak lain karena buku-buku tersebut hanya bersandar pada satu atau dua madzhab saja. Tidak heran bila kemudian pembahasannya dirasa kurang tuntas atau dinilai kurang menyentuh permasalahan yang mendasar.

Untuk itulah buku Fiqih Wanita Empat Madzhab ini hadir. Buku yang ada di tangan pembaca ini dinilai dapat memberikan solusi secara komprehensif (karena menggunakan pendekatan empat madzhab) terhadap berbagai permasalahan fiqih kaum wanita. A sampai Z permasalahan wanita dibahas di sini tanpa meninggalkan satu pun celah ketidakpuasan karena memang setiap permasalahan dibahas secara mendalam dengan menyertakan keterangan ayat Al-Quran dan hadits yang sahih. Karenanya, tak perlu ada lagi keraguan untuk mengamalkan yang diungkapkan dalam buku ini.

Kalau perhiasan diklaim sebagai teman terbaik wanita, maka buku Fiqih Wanita Empat Madzhab adalah karib wanita yang akan selalu ada untuk menuntun mereka ke jalan surga-Nya. Insya Allah.

Rabu, 01 September 2010

Fiqih Kecantikan; Panduan Kecantikan Sesuai Syari'at


 Judul:
FIQIH KECANTIKAN;
Panduan Cantik Sesuai Syari’at
Penulis:
Dr. Aam Amiruddin, M.Si.
Penerbit:
Khazanah Intelektual
Tahun terbit:
Cetakan I, September 2010
Jumlah halaman:
x + 102
Harga:
Rp. 48.000,- 






Setelah meluncurkan buku Mudah dan Cepat Pahami Al-Quran, Aam Amiruddin kembali membuktikan kecerdasan intelektual dan kepiawaiannya dalam mengolah kata dengan meluncurkan sebuah buku berjudul unik, Fiqih Kecantikan. Dalam buku terbarunya ini, Aam Amiruddin mengulas hukum fiqih rangkaian teknologi serta metode yang biasa digunakan wanita untuk tampil cantik, mulai dari yang sederhana (seperti berias dengan menggunakan make-up atau melakukan lulur dan spa) sampai yang masih menjadi perdebatan (seperti hukum meluruskan dan mewarnai rambut). Setiap hukum fiqih metode kecantikan didasarkan pada Al-Quran dan hadits Rasulullah Saw. setelah sebelumnya diberi penjelasan, baik dari segi kecantikan, teknologi, maupun kesehatan.

Seperti buku-buku karya Aam Amiruddin sebelumnya, setiap pembahasan disampaikan dengan bahasa yang moderat, khas Aam, sehingga jauh dari kesan menghakimi apalagi serba ngga boleh, dengan tentu saja tanpa menghilangkan ketegasan hukum fiqihnya. Meskipun berjudul Fiqih Kecantikan, buku ini tidak melulu mengulas hukum-hukum fiqih. Pembaca, terutama wanita, juga akan diperkenalkan pada penemuan-penemuan luar biasa dalam dunia kecantikan, seperti bedah kosmetik, suntik putih, dracula therapy, atau teknologi nano. Pembahasannya lengkap, meliputi cara kerja, khasiat, maupun efek yang mungkin timbul bagi pemakainya.

Lewat buku ini, Aam Amiruddin bukan hanya mengisyaratkan kaum wanita untuk selalu tampil bersih dan segar, tetapi juga mengimbau kaum hawa agar tidak terjebak pada sikap tabarruj, yakni sengaja memperlihatkan kecantikan (bahkan aurat) pada yang bukan mahramnya. Menurutnya, kecantikan seorang wanita haruslah diawali dengan kecantikan hati, berupa keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Kecantikan hati inilah yang akan menggiring seorang wanita pada kecantikan luar, yakni merawat dan menjaga kebersihan diri dengan meniatkannya karena Allah Swt. dan bukan untuk dipamerkan apalagi menggoda yang bukan mahramnya. Buku yang dikemas dengan tampilan full color ini memiliki desain atraktif dan tidak monoton di setiap halamannya. Sebuah langkah apik untuk mengenyahkan kebosanan sekaligus memanjakan mata para pembacanya.

Kamis, 01 Juli 2010

Check Up Shalat; Berdasarkan Al-Quran dan As-Sunah

Sudah terbiasa mendirikan shalat membuat mayoritas muslim merasa yakin dengan shalatnya. Mereka merasa telah hafal betul praktik shalat yang mereka kerjakan. Toh dari dulu sampai sekarang, gerakan shalat tetaplah sama: takbiratul ihram, bersedekap, ruku, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tahiyyat, dan salam. Maka, jadilah setiap rukun shalat dan atributnya didasarkan pada kebiasaan bukan pada pedoman sesungguhnya, yakni Al-Quran dan Sunah.

Inilah yang dibahas dalam buku ini; bukan masalah kekhusukan, tetapi lebih kepada masalah kaifiyah (tata cara) yang banyak terlewat dan pada praktiknya hanya dianggap hal sepele serta tidak berpengaruh pada ibadah secara keseluruhan. Padahal, bisa jadi ketikdakhusukan shalat dikarena tata caranya yang belum sempurna. Tidak hanya masalah kaifiyah shalat, buku ini juga menyertakan kaifiyah komponen-komponen shalat, seperti wudhu serta azan dan iqamah.

Buku ini merupakan kumpulan riset penulis mengenai tata cara shalat yang selama ini dipraktikkan dan ‘dilupakan’ kebanyakan masyarakat. Di dalamnya, dibahas dengan lengkap dan gamblang mengenai ‘hal-hal kecil’ dalam ibadah yang jika dibiarkan akan menjadi besar dan merugikan. Setiap penjelasan menggunakan pendekatan yang tidak menggurui dan lebih terkesan mengajak berdiskusi. Disertakannya keterangan-keterangan yang ada dalam Al-Quran dan hadits sahih membuat Anda tidak perlu ragu lagi mengenai kebenaran materi yang disampaikan.

Jadi, sebelum terlanjut menyimpang, marilah kita melakukan check-up terhadap shalat kita sebagai langkah pencegahan. Bukankah kalau shalat kita ‘sehat’ maka semua amal kita juga akan turut dikatagorikan ‘sehat’?

Judul:
Check Up Shalat;
Berdasarkan Al-Quran dan As-Sunah
Penulis:
Dadang Khaerudin

Ukuran:
17 cm x 17 cm
Halaman:
x + 200
Penerbit:
Khazanah Intelektual
Terbit:
Cetakan I, Juli 2010
Harga:
Rp 48.000
Kontak Marketing:
(022) 70780148